TATA CARA SHALAT

TATA CARA SHALAT

Dalam pelaksanaan shalat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, merujuk kepada cara shalat Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam. Hal-hal tersebut antara lain :

1. Menghadap Ka’bah. 

Bila Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam bangkit hendak shalat, maka beliau menghadap ka’bah. Beliau memerintahkannya dan bersabda kepada orang yang shalatnya tidak benar :

“Apabila kamu bangkit hendak menunaikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat, dan bertakbirlah.” (HR Bukhari, Muslim dan AS-Siraj)

Namun dalam riwayat lain disebutkan :

“Rasulullah saw. Pernah melaksanakan shalat sunnat di dalam perjalanan di atas kendaraannya, dan beliau melaksanakan shalat witir di atasnya, ke arah mana saja kendaraan itu menghadap baik ke arah timur maupun ke arah barat. (HR Bukhari, Muslim, dan As-Siraj).

Demikian pula yang disebutkan pada Q.S. 2 : 115, dan juga beberapa hadits yang diriwayatkan mengenai shalat khauf, dan shalat para shahabiyah yang tidak mengetahui arah.

2. Berdiri

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam menunaikan shalat dengan berdiri, shalat fardhu ataupun shalat sunnat, sebagai ketaatannya kepada firman Allah (lihat Q.S. 2 : 238 - 239)

Dalam riwayat lain disebutkan :

“Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam. shalat sambil duduk ketika beliau sakit yang mendekati kematiannya. (H.R. Turmudzi dan dishahihkannya dan Ahmad)

Imran bin Husain berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam tentang shalat seorang lelaki sambil duduk. Beliau bersabda,”Barang siapa yang shalat sambil berdiri , maka hal itu adalah lebih utama. Barangsiapa yang shalat sambil duduk, maka ia mendapatkan setengah dari pahala orang yang shalat sambil berdiri.. Dan barangsiapa yang shalat sambil tidur---dalam riwayat lain disebutkan sambil berbaring---, maka ia mendapatkan setengah dari pahala orang yang shalat sambil duduk.” (Al-Bukhari, Abu Daud dan Ahmad)

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam ditanya tentang shalat di atas kapal. Beliau bersabda : “Shalatlah di dalamnya (kapal) sambil berdiri, kecuali apabila kamu takut tenggelam.”(Al-Bazzar, Ad-Daraquthni dan Abdul Ghani al-Maqdisi dalam As-Sunan, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi). Pernah Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam pada malam yang panjang shalat sambil berdiri, dan pada suatu malam yang panjang juga shalat sambil duduk. Dan apabila beliau membaca sambil berdiri, maka beliau ruku’ sambil berdiri, dan bila beliau membaca sambil duduk, maka beliau pun ruku’ sambil duduk (HR Muslim dan Abu Daud)

Kadangkala beliau berdiri melakukan shalat tanpa memakai terompah dan kadangkala melakukannya dengan memakai terompah.

“Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sebuah tabir. Dan jangan engkau biarkan seseorang berlalu di hadapanmu, dan apabila ia enggan, maka bunuhlah ia, karena sesungguhnya ia mempunyai teman.” (Ibnu Khuzaimah dalam Ash-Shahih dengan sanad jayyid)

Dalam riwayat lain “ Apabila beliau shalat –di tanah lapang yang tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan tabir—maka beliau menancapkan lembing, kemudian shalat sambil menghadap kepadanya bersama manusia di belakang beliau. (HR Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).

“Janganlah kamu shalat dengan menghadap kubur, dan janganlah kamu duduk di atasnya.” (Muslim, Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah).

3. Niat

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam bersabda : “Pekerjaan-pekerjaan itu tidak lain hanyalah dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

4. Takbir.  

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam membuka shalat dengan kata-katanya: “Allahu Akbar “ (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Riwayat lain :”Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang di antara manusia, sehingga ia berwudhu dan meletakkan wudhu pada tempatnya, lalu berkata,’Allahu Akbar.” (HR. Thabrani dengan isnad shahih).

5. Mengangkat kedua tangan.
 

Kadangkala Rasululla shalallahu’alaihi wassallam mengangkat kedua tangannya secara bersamaan dengan takbir (HR Bukhari dan Nasa’i),

dan kadangkala setelah takbir (HR Bukhari dan Abu Daud)

dan kadangkala sebelumnya (HR Bukhari dan Nasa’i).

Dan diriwayatkan bahwa : “Beliau mengangkat kedua (tangan)nya sambil meluruskan jari jemarinya—tidak meregangkan dan tidak pula menggenggamnya.” (Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah).

Dan beliau meletakkan kedua tangananya itu sejajar kedua bahunya (HR Bukhari dan Nasa’i) dan barangkali beliau mengangkatnya hingga berada setentang dengan –daun-daun kedua telinganya. (HR Bukhari dan Abu Daud)

6. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. 

 Diriwayatkan bahwa :”Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.. (HR Muslim dan Abu Daud).

Diriwayatkan pula :”Beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangannya, pergelangan tangannya dan lengan tangannya.” (Malik, Al-Bukhari dan Abu Uwanah)

7. Meletakkan kedua tangan di atas dada.  

Diriwayatkan bahwa “Beliau meletakkan kedua tangannya di atas dadanya.”Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah dai dalam Ash-Shahih)

8. Melihat tempat sujud dan khusyu’.
 

“Apabila Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam shalat, maka beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke tanah.”(Al-Baihaqie dan Al-Hakim)

Riwayat lain :” Beliau melarang untuk mengarahkan pandangan ke langit (HR Bukhari dan Abu Dawud)

9. Doa Iftitah. 

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam mrmbuka bacaan dengann doa-doa yang banyak dan bermacam-macam, yang memuji dan memuja Allah, beliau bersabda :”Tidaklah sempurna shalat seseorang di antara manusia, sehibngga ia bertakbir, memuji Allah dan memuja-Nya serta membasa apa yang mudah baginya dari ayat-ayat Al-Qur;an…” (Abu Daud dan Al-Hakim)

Kadang-kadang beliau membaca ini dan kadangkala yang itu, antara lain : Allahumma ba’id baynii wa bayna, Subhanakallohumma wa bihamdika atau wajjahtu wajhiyalilladzi atau yang lainnya. (afwan banyak banget ada 12 macem, kalo mau lihat di “Sifat Shalat Nabi “ Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq)

10. Qira’at (dinyaringkan bacaannya). 

Kemudian beliau memohon perlindungan kepada Allah, beliau bersabda :”A’udzubillahi minasy syaithonir rajimi min harzihi wa nafkhihi wa naftsihi “ atau kadangkala “A’udzubillahis samii ‘il ‘aliimi minasy syithoni…”. Kemudian beliau membaca Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim dengan tidak bersuara (Bukhari, Muslim, Abu Uwanah, Ath-Thahawi dan Ahmad)

11. Membaca ayat demi ayat. 

Kemudian Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam mem,baca al-Fatihah dan memotongnya ayat demi ayat.

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam mengagungkan kedudukan surat ini, beliau bersabda :”Tidak sah shalat orang yang tidak membaca—didalamnya (shalat)—fatihata ‘l-Kitab (Al-Fatihah).

12. Meniadakan Qira’at di belakang Imam dalam shalat Jahriyyah (shalat dengan bersuara).  

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam bersabda : “Sesungguhnya imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Oleh karena itu apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah, dan apabila membaca qira’at, maka dengarkanlah.”. (Abu DAud, Muslim, Abu Uwanah dan Ar-Rubani).

Dalam riwayat lain disebutkan :” Barangsiapa yang mempunyai iamam, maka bacaan imam adalah badcaan baginya.” (Ibnu Abi Syaibah, Daraquthni, Ibnu Majah, Tah-Thahawi dan Ahmad).

13. Ucapan “Amin” dan Imam mengeraskannya.  

Dikatakan bahwa :”Nabi shalallahu’alaihi wassallam apabila selesai membaca al-Fatihah, maka beliau mengucapkan “amin”. Beliau mengeraskannya dan memanjangkannya dengan suaranya.” (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Dalam riwayat lain :”Apabila Imam mengucapkan Ghairi ‘l-maghdubi ‘alaihim wala’dh-Dhaallin, maka ucapkanlah ‘Amin’. Karena sesunguhnya para malaikat mengucapkan ‘Amin’ dan imam mengucapkan’Amin’. Dan barangsiapa yang aminnya itu sesuai dengan amin para malaikat, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Syaikhani dan An-Nasa’i).

14. Bacaan Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam setelah Al-Fatihah.  

Kemudian Rasulullah membaca surat lainnya setelah membaca Al-Fatihah. Kadangkala beliau memperpanjang bacaan surat itu, kadang pula beliau memperpendek karena alasan halangan perjalanan, atau batuk, atau sakit, atau mendengar tangis bayi (HR Bukhari, Muslim). Kadang beliau membagi surat itu ked alam dua rakaat, kadang beliau membaca dua surat atau lebih dalam satu rakaat.

15. Bersuara dan tidak bersuara dalam shalat lima waktu dan lainnya.  

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam membaca keras di dalam shalat Shubuh, dan di dalam dua rakaat pertama shalat Maghrib dan Isya. Tidak membaca dengan suara di dalam shalat Zhuhur dan Ashar dan di dalam rakaat ketiga dari shalat maghrib serta dua rakaat terakhir dari shalat Isya. Para shahabat mengetrahui bacaan Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam dari gerakan janggutnya (Al-Bukhari dan Abu Daud). Dan beliau shalallahu’alaihi wassallam mengeraskan suara Qira’atnya dalam Jum’ah, dan dua shalat ‘Ied, shalat Istiqa dan shalat Kusuf.

16. Mentartilkan bacaan dan membaikkan suara. 

Sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi shalallahu’alaihi wassallam, maka beliau membaca Al-Qur’an dengan tartil bukan dengan cepat-cepat dan bukan pula dengan, tergesa-gesa bahkan dengan bacaan yang menafsirkan satu-huruf-satu huruf.

17. Membetulkan imam.  

Diriwayatkan bahwa :” Beliau melaksanakan suatu shalat, lalu membaca dan beliau keliru. Tatkala beliau selesai shalat, beliau bersabda kepada Ubay,”Apakah engkau shalat bersama kami ?” Ubay berkata,”Benar”. Beliau bersabda “Apa yang telah melarangmu—untuk membetulkan aku ?” (Abu Daud, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir)

18. Ruku.  

Apabila Rasulullah selesai membaca Qira’at, maka beliau berhenti sejenak (Abu DAud dan Al-Hakim),

kemudian beliau mengangkat kedua belah tangannya dengan cara-cara seperti diterangkan dalam takbirati ‘l-Iftitah dan bertakbir lalu ruku (Al-Bukhari dan Muslim). 

Diriwayatkan bahwa :”Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya.” (HR. Al-Bukhari dan Abu Daud)

“Beliau menguatkan kedua tangannya kepada kedua lututnya – seakan-akan beliau memegang erat kedua lututnya itu,” (HR Al-Bukhari dan Abu Daud)
“Beliau meregangkan jari-jemarinya.” (Al-Hakim, dishahihkan Adz-Dzahabi dan Ath-Thayalisi, dikeluarkan dalam Shahih Abi Daud)

“Beliau menjauhkan danmembengkokkan kedua sikunya dari kedua samping badannya.”(HR. Turmudzi ).

“Apabila beliau ruku’, maka beliau melapangkan punggungnya dan meratakannya. Sehingga, apabila punggungnya itu disiram air, maka air itu akan tetap di atasnya. (Ath-Thabrani)

“Beliau tidak menundukkan kepalanya dan tidak pula mengangkatnya (sehingga kepalanya lebih tinggi dari punggungnya). Tetapi pertengahan antara menundukkan dan mengangkatnya.”( HR. Muslim dan Abu Uwanah).

19. Wajib Thu’maninah dalam ruku.  

“Seburuk-buruknya orang mencuri itu adalah orang yang mencuri dari shalatnya.” Mereka Berkata,”Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalatnya ?” Rasulullah bersabda “(Yaitu) tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya.” (Ibnu Abi Syaibah, Ath-Thabrani dan Al-Hakim)

Ketika Beliau shalallahu’alaihi wassallam melihat laki-laki yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mencotok dalam sujudnya, ia bersabda bahwa jika ia mati, bukan pada millah (agama) Muhammad. (Abu Ya’la dalam Musnad dan Al-Ajiri dalam Al-Arba’in, Al-BAihaqi dan Ath-Thabrani)

20. Doa-doa Ruku.  

Kadang mengucapkan ini dan kadang mengucapkan yang itu. Umumnya : Subhaana rabbiyal ‘adzimi (tiga kali) (Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ad-Daruquthni, Ath-Thahawi, Al-Bazzar, dan Ath-Thabrani),

Subhana rabbiyal’adzimi wa bihamdih (tiga kali) (Abu Daud, Ad-Daruquthni, Ahmad, Ath-Thabrani),
Subbuuhun qudduusun rabbul malaa ikati warruuh. (HR. Muslim, Abu Uwanah), 

Subhaanaka ‘l-Allahumma wabihamdika Allahummagfirlii. (Bacaan lainnya dapat dilihat di Sifat Shalat Nabi, Nashiruddin Al-Albani, Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq).

21. Memperpanjang Ruku’.  

Diriwayatkan bahwa “Rasulullah menjadikan ruku’nya dan bangkitnya dari ruku’ , sujudnya dan duduknya di antara dua sujud hampr sama lamanya.(HR Al-Bukhari dan Muslim).

22. Larangan membaca Al-Qur’an di dalam Ruku.  

“Beliau melarang membaca Al-Qur’an di dalam ruku dan sujud.” (Muslim dan Abu Uwanah).

23. I’tidal dari Ruku dan Bacaannya.  

“Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam mengangkat punggungnya dari ruku sambil mengucapkan ‘Sami’allahu liman hamidah’ (mudah-mudahan Allah mendengarkan orang yang mnemuji-Nya.” (Al-Bukhari dan Muslim)

“Sambil berdiri beliau mengucapkan,’Rabbana wa lakal hamdu’( Wahai Tuhan kami, --dan—kepunyaan-Mu-lah segala puji).”(HR.Al-Bukhari dan Ahmad).

Kadang lafazh di atas beliau tambahkan “Allahumma (Ya Allah)” dan kadang di tambahkan,” Mil assamaa waa ti wa mil al ardhi wa mil a maa syi’ tamin syai in ba’du. (HR. Muslim dan Abu Uwanah).

(Lengkapnya silahkan lihat Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq, Sifat Shalat Nabi Nashiruddin Al-Albani).

24. Memperpanjang I’tidal dan kewajiban Thuma’ninah di dalamnya.  

“Kadangkala beliau berdiri hingga seseorang mengatakan, “Beliau telah lupa”, karena lamanya beliau berdiri.”(HR Al- Bukhari, Muslim, dan Ahmad .

Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam bersabda : “Allah Yang Maha perkasa lagi maha Agung tidak akan memperhatikan shalat seorang hamba yang tidak menegakkan punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (Ahmad dan Ath-Thabrani)

25. Sujud. 

Diriwayatkan bahwa :”Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam mengucapkan takbir, lalu turun untuk sujud. (HR Bukhari dan Muslim)

“Kadangkala beliau mengangkat kedua tangannya apabila beliau hendak sujud.” (An-Nasa’i, Ad-Daruquthni, dan Al-Mukhlis sanad shahih)

26. Sujud dengan bertelekan kepada kedua tangan.  

Diriwayatkan bahwa :”Deliau meletakkan tangannya di atas tanah sebelum kedua lututnya.” (Ibnu Khuzaimah, Ad-Daruquthni, Al-Hakim)

“Apabila salah seorang diantara kamu sujud, maka janganlah ia berlutut seperti berlututnya unta, dan hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (Abu Daud dan Ahmad dengan sanad shahih)

“Beliau bertelekan kepada kedua telapak tangannya – sambil melebarkannya (Abu Daud dan Al Hakim)

Beliau merapatkan jari-jari kedua telapak tangannya (Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, Al-Hakim) dan mengarahkannya ke arah kiblat (Al-Baihaqi)

“Beliau meletakkan (kedua telapak tangnnya) setentang dengan kedua bahunya”.(Abu Daud dan Tirmidzi)

Dan kadangkala “Beliau meletakkannya setentang dengan kedua telinganya (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)

“Beliau menetapkan hidung dan keningnya kepada tanah.”(Abu Daud dan At-Tirmidzi)

“Apabila seorang hamba bersujud, maka bersujudlah tujuh anggota tubuh bersamanya : wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya dan kedua telapak kakinya.”. (HR Muslim, Abu ‘Uwanah dan Ibnu Hibban).

“Beliau mengangkat keduanya dari lantai dan menjauhkannya dari kedua sisi tubuhnya, sehingga putih ketiaknya terlihat dari belakangnya. (HR Bukhari dan Muslim)

27. Kewajiban Thumaninah dalam sujud.  

Rasululah shalallahu’alaihi wassallam memerintahkan untuk menyempurnakan ruku’ dan sujud. Orang yang tidak melakukannya diibaratkan orang yang makan satu atau dua buah kurma yang tidak memberikan manfaat apa-apa baginya.

28. Doa-do’a dalam sujud.  

Kadangkala beliau mengucapkan ini , kadangkala beliau mengucakan itu. Subhana Rabbiyal a’laa (Maha Suci Tuhanku yang Maha Luhur, tiga kali, kadang beliau mengulangnya lebih dari itu). Kadang beliau mengucapkan Subhana Rabbiyal a’la wabihamdih. Kadang beliau mengucapkan :”Subbuuhun Qudduusun Rabbul malaa ikati Warruuhi (Maha Suci dan pemberi berkah Tuhan Malaikat dan Ruh”) (HR. Muslim dan Abu “Uwanah).

Kadang beliau membaca :”Subhanaka Allahumma Rabbana Wabihamdika Allahummag firlii.(Maha suci Engkau Ya Allah Ya Tuhan kami, dan dengan memuji Engaku ya Allah ampunilah aku.” (Lengkapnya baca Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq, Sifat Shalat Nabi Nashiruddin Al-Albani)

29. Larangan membaca Al-Qur’an dalam sujud.  

Rasulullah melarang membaca al-Qur’an dalam sujud, beliau memerintahkan untuk memperbanyak do’a dalam sujud. Rasulullah bersabda,”Hamba yang paling dekat kepada Tuhannya adalah hamba yang bersujud. Oleh karena itu perbanyaklah doa di dalam sujud.” (HR Muslim, Abu ‘Uwanah, dan Al-Baihaqi).

30. Bangkit dari sujud.  

“Tidaklah sempurna shalat salah seorang manusia, sehingga ia bersujud sampai tulang-tulang persendiannya merasa tenang, lalu mengucapkan ‘Allahu Akbar’ dan mengangkat kepalanya hingga ia duduk lurus.”(HR.Abu Daud dan Al-Hakim).

“Beliau membentangkan kaki kirinya (duduk iftirasy), lalu duduk di atasnya dengan tenang.” (Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Abu Uwanah)

“Beliau mendirikan kaki kanannya.” (Al-Bukhari dan Al-Baihaqi)

“Rasulullah kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya.” (Muslim, Abu Uwanah dan Abu ‘sy-Syaikh) .

31. Kewajiban berthumaninah di antara dua sujud.  
Diriwayatkan bahwa “Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam berthumaninah sehingga setiap tulang kembali kepada tempatnya.” (HR Abu Daud dan Al-Baihaqi). 

“Beliau memanjangkannya sehingga hampir mendekati lama sujudnya.” (Al-Bukhari dan Muslim)

32. Dzikir-dzikir di antara dua sujud.  

Dalam duduk ini Rasulullah mengucapkan :”Allahummag firlii (dalam riwayat lain Rabbig firlii), warhamnii, wajburnii, warfa’nii, wahdinii, wa’afinii, warzuqnii./ Ya Allah (Ya Tuhanku), ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku.)

Kadangkala beliau shalallahu’alaihi wassallam mengucapkan : “Rabbigfirlii, Rabbigfirlii (Ya Tuhanku ampunilah aku, Ya Tuhanku, Ampunilah aku. Setelah itu diriwayatkan bahwa :”Beliau mengucapkan takbir, lalu sujud untuk sujud yang kedua.” (Al-Bukhari dan Muslim)

“Beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir ini.” ( HR Abu Daud dan Abu Uwanah dengan sanad shahih à menurut Malik dan Asy-Syafii’)

33. Duduk Istirahat. Kemudian : “Beliau duduk lurus –di atas kakinya yang kiri sambil beri’tidal , sehingga setiap tulang kembali kepada tempatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Abu Daud).

34. Bertelekan kepada kedua Tangan pada waktu bangkit untuk rakaat berikutnya. 

“Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam bangkit kepada raka’at kedua sambil bertelekan kepada tanah. “ (HR Al-Bukhari dan Asy-Syafi’i).

35. Tasyahud pertama.  

Setelah selesai raka’at kedua, beliau duduk untuk tasyahud. Bila shalat itu dua rakaat seperti shalat shubuh, maka beliau duduk iftirasy (membentang) sebagaimana beliau duduk di antara dua sujud (An-Nasa’i dengan sanad shahih)

Demikian pula beliau duduk dalam tasyahud awal di dalam shalat yang tiga rakaat atau empat rakaat (Al-Bukhari dan Abu Daud).

“Apabila kamu duduk di tengah-tengah shalat, maka berthumaninnah lah dan bentangkan paha kirimu, lalu bertasyahud lah.” (Abu Daud dan Al-Baihaqi).

“Apabila beliau dudk di dalam tasyahud maka beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas pahanya (riwayat lain :lututnya) yang sebelah kanan dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas pahanya (riwayat lain : lututnya) yang sebelah kiri.(HR. Muslim dan Abu Uwanah).

“Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam melebarkan telapak tangannya yang sebelah kiri di atas lututnya yang sebelah kiri dan menggemgamkan jari-jemari telapak tangannya yang sebelah kanan semuanya lalu menunjuk kea rah kiblat dengan dengan jarinya yang berada setelah ibu jari (telunjuk) sambil mengarahkan pandangannya kepadanya. (Muslim, Abu Uwanah dan Ibnu Khuzaimah) 

“Apabila beliau menunjuk dengan jarinya (telunjuknya), maka beliau meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya. “(HR Muslim dan Abu Uwanah)

“Beliau menggerak-gerakkan jarinya (telunjuknya) sambil berdoa dengannya.”Abu DAud, An-Nasai dan Ibnu’l-Jarud)

36. Macam bacaan tasyahud. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam mengajarkan beberapa bacaan tasyahud kepada para shahabat.

Tasyahud Ibnu Mas’ud : "Attahiyatu lillah Wassholawaatu WaththayyibatuAssalamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu’alainaa wa’ala ‘ibaadillahishshaa lihiin. Asy hadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluh.(“segala ucapan selamat, kebahagiaan dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkatnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada sekalian hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” (Al-Bukhari dan Muslim dan Ibnu Abi Syaibah)

Tasyahud Ibnu Abbas : “Attahiyyatu’l-mubaarakaatu ‘sh-shalawaatu ‘th-thayyibaatu lillah. Assalamu’alayka ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillahi ‘sh-shalihiin. Asy hadu alla ilaaha illallah Wa Asy hadu anna muhammad ‘r-Rasulullah”(HR Muslim, Abu Uwanah, Asy Syafi’idan An-Nasa’i)

Tasyahud Ibnu Umar (tidak jauh berbeda dengan Tasyahud Ibnu Mas’ud)

Tasyahud Abi Musa Al-Asy’ari

Tasyahud Umar bin Khattab

37. Shalawat atas Nabi, letak dan macam bacaannya.  

Rasulullah mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahud pertama dan lainnya. (An-Nasa’i dan Abu Uwanah)

Allahumma shalli’ala muhammad wa ‘ala alii baitihii. Wa ‘alaa azwaajihii Wadzurriyya tihii kamaa shallayta ‘ala aali ibraahiim. Innaka hamiidum majiid wa baarik ‘ala muhammad.Wa ‘alaa aali baytihii Wa ‘alaa azwaa jihii wa dzurriyyatihii kamaa barakta ‘alaa aali ibraahiim. Innaka hamiidummajiid. (“Ya Allah berilah kebahagiaan kepada Nabi Muhammad, kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berilah berkah kepada Muhammad, Ahli Baitnya, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”), dan beberapa shalawat lainnya.

38. Bangkit kepada raka’at ketiga lalu keempat.

39. Tasyahud Akhir.  

“Di dalam tasyahud akhir ini beliau duduk dengan tawarruk.” (HR. Bukhari).Yaitu :”Beliau melapangkan pangkal pahanya yang sebelah kiri ke tanah dan mengeluarkan kedua kakinya ke satu arah. (HR. Abu Daud dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih).

40. Kewajiban Memohon Perliindungan dari Empat Perkara Sebelum Berdoa. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda : “Apabila salah seorang di antara kamu selesai dari tasyahud –akhir-, maka hendakalah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara yaitu : Allahumma inni a’udzubika min ‘adzaabi jahannam wamin ‘adzaabil qabri wamin fitnati ‘l-hayaa wal mamaa ti wamin syarri fitnati ‘l-masiihid dajjal (“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksaan jahannam, dari siksaan kubur, dan dari cobaan hidup serta cobaan mati, dan dari kejahatan—cobaan—Al-Masih yang menjadi Dajjal) (HR Muslim, An-Nasa’i, Abu ‘Uwanah, dan Ibnu’l-Jarud)

41. Doa Sebelum salam dan macam-macamnya.

42. Salam.  

Rasulullah mengucapkan salam ke sebelah kanan, kadang lengkap Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, kadang hanya sampai warahmatullah, dan kemudian ke sebelah kiri kadangkala beliau memperpendek ucapannya Assalamu’alaikum. (HR Abu Daud, An-Nasa’i dan Tirmidzi) (Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi dan Adl-Dliya, Ahmad dan Ath-Thabrani).

Categories: Share

Leave a Reply